Kamis, 11 Agustus 2011

PROSPEK MASA DEPAN ASEAN



Judul Buku                : Sejarah Kerjasama Asia Tenggara
Penggarang                : Dra. A. Kardiyat Wiharyanto, M. M
Tahun terbit              : 2004
Kota terbit                  : Yogyakarta
Penerbit                      : Arti bumi Intaran
Jumlah halaman        : 101 halaman

PROSPEK MASA DEPAN ASEAN
A.    ASEAN Dan Globalisasi
Pada tahun 2002 ASEAN menyelenggarakan KTT di Phnom Penh, Kamboja, sebelum terbebaskan dari krisis ekonomi, ASEAN tergiring untuk ikut serta memberantas terorisme internasiaonal. Sedangkan di Indonesia sendiri sedang menghadapi berbagai konflik internal yang sangat menguras tenaga.
Semua peristiwa itu ternyata telah membawa dampak bagi kerjasama ASEAN. Perubahan yang begitu cepat secara global rupanya ditanggapi secara berbeda oleh masing-masing anggota ASEAN. Sampai saat ini kinerja ASEAN masih dikritik karena tidak mampu mengatasi berbagai masalah, seperti krisis ekonomi Asia dan konflik di Laut Cina Selatan.
Kemampuan ASEAN mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai sasat ini merupakan keberhasilan yang tidak kecil artinya, karena prestasi serupa itu belum pernah diraih oleh wadah-wadah kerjasama di Asia Tenggara yang terbentuk sebelumnya, seperti ASA maupun Maphilindo.
Keberadaan ASEAN merupakan suatu keputusan politik dalam situasi yang sedang bergerak dan tidak mantap sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan di antara Negara-negara ASEAN sendiri maupun dari perebutan pengaruh antara Negara-negara adikuasa. Sampai saat ini, kerja sama ekonomi ASEAN telah mengalami pasang surut seirama dengan perkembangan ekonomi di Negara-negara ASEAN sendiri maupun dengan perkembangan ekonomi dunia pada umumnya.
Selaras dengan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam bagian pembukaan Deklarasi Bangkok, maka dalam rangka usaha untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan ASEAN banyak tenaga dan pikiran yang ditumpahkan untuk menghilangkan sikap saling curiga dan menciptakan saling pengertian di antara Negara-negara anggota ASEAN.
Dengan bentuk intergrasi ekonomi yang diperdalam itu kerjasama ekonomi ASEAN menjadi semakin luwes dalam menghadapi berbagai macam tantangan, dalam kondisi seperti itu kelihatannya ASEAN masih akan menghadapi masa depan yang sulit, apalagi karena konsentrasi masing-masing anggotanya cendrung ke dalam negeri. Namun apabila ASEAN mampu menggunakan kesempatan kerjasama memerangi terorisme internasional, maka dapat diyakini bahwa kerjasama regional tersebut akan mampu menghadapi masa depannya.

A.    Kendala Hubungan Bilateral
Salah satu rievatalisas masalah yang pernah menggajal regionalism Asai Tenggara sebelum terbentuk ASEAN. Lagipula, berbeda dari aspek struktur social ekonomi dan formasi politik yang dapat menggurangi bobot dan ruang lingkup regionalism, kedekatan fisik dan perbedaan budya politik mungkin sanggup meruntuhkan regiaonalisme.
Tidak dapat dipungkiri walaupun ASEAN sudah berusia lebih dari 30 tahun, tetapi persepsi ancaman dari para anggotanya smapai sekarang masih berbeda-beda. Bahkan di antara Negara-negara anggota ASEAN sendiri yang memiliki kedekatan geografis masih menyimpan benih-benih konflik, khususnya yang menyangkut batas wilayah, yang sewaktu-waktu bias muncul kepermukaan. Antara lain, Malaysia  saling klim dengan Filipina atas sabah; Indonesia dengan Malaysia atas pulau Sipandan dan Ligitan; serta Indonesia dengan Filipina atas Miangas. Juga Singapura dengan Malaysia  atas pulau batu Puteh. Thailand dengan Filipina juga mempunyai masalah dengan Malaysia, sehubungan dengan bantuan yang diberikan Malaysia kepada gerakan sparatis Muslim di kedua Negara itu. Saling klaim tersebut kerap kali juga menjurus kea rah konflik bersenjata.
Masih dipertahankannya FPDA yang terbentuk tahun 1971 pada ASEAN telah memasuki usia 30 tahun, menimbulkan rasa tidak suka pada beberapa kalangan Indonesia. Sebab, Indonesia menganggap FPDA itru dibentuk untuk mengamankan posisi Singpura dan Malaysia dari kemungkinan ancaman Indonesia, yang dimasa sebelumnya memperlihatkan menjalankan politik luar negeri yang agresif. Untuk mengurangi atau meniadakan kecurigaan Indonesia terhadap FPDA tersebut, maka pada tahun 1922 diselenggarakan seminar di kuala Lumpur. Dalam seminar tersebut persoalan FPDA sempat menjadi perdebatan cukup sengit.
Melihat semua itu, maka setelah kepergiaan AS secara fisik dari Filipina, ASEAN perlu berupaya membentuk suatu pengaturan keamanan Regional. Karena hanya dengan pengaturan seperti itulah rasa saling percaya di antara bangsa-bangsa di Asia Tenggara, khususnya ASEAN, bias diciptakan.


B.     ASEAN ABAD XXI
Dengan didorongnya keinginan mempercepat proses pencapaian kemakmuran bersama warga ASEAN, pasar bebas diyakini sebagai salah satu jalan terbaiknya. Itulah sebabnya, mulai tahun 2000 ini semangat menciptakan pasar bebas ASEAN perlu terus dikembangkan. Berdasarkan perbedaan latar belakang sejarah tersebut, dengan sendirinya kerjasama Asia Tenggara menghadapi hambatan. Suatu factor  yang menentukan apakah suatu pemerintah dapat mempertahankan dukungan rakyat adalah seberapa jauh tuntutan mereka dapat dipenuhi maupun partisipasi mereka dalam semua aspek pembangunan. Implikasdi-implikasi social-politik fanatisme agama dapat menambah dan menyulitkan masalah-masalah yang dihadapi oleh pemerintah, tetapi sendirian hal bukan merupakan faktor yang menentukan untuk menggantikan pemerintah.
Sebagai himpunan yang lahir dari ketidakpastian politik, ekonomi dan tingkat partumbuhan masyarakat dan mengingat  pula bahwa tujuan jangka panjang dari bentuk kerjasama ini masih diragamkan oleh kesibukan menyesuaikan diri dan memilih pola-pola idaman yang paling tepat untuk mengisi bentuk-bentuk kerjasana yang hendak dirangkakan, dilihat dari sejarah masa lalu, maka ancaman terhadap kestabilan Asia Tenggara dari sudut politik, ideologi, ekonomi,militer dan kebudayaan.
Usaha-usaha ASEAN untuk menghadapi ancaman tersebut dengan terus membangun perekonomian dan memperluaskan kerjasama ekonomi yang juga merupakan suatu jawaban yang perlu, di samping usaha-usaha diplomasi politik dan usaha-usaha keamanan militer yang telah dibahas. Suatu usaha kerjasama ekonomi yang kuat dan luas dasarnya dapat menjamin kelanggsungan hidup ASEAN dalam jangka yang lebih panjang. Suatu perluasan struktur kerjasama ekonomi di kawasan Asia Pasifik dapat lebih memperkuat kerjasama ekonomi ASEAN melalui peningkatan hubungan-hubungan ekonomi dengan Negara-negara industry maju.
Dengan berakhirnya perang dingin dan perubahan dramatic di bidang keamanan membuka peluang bagi ASEAN untuk mewujudkan visinya tentang suatu regional di atas perbedaan ideology dan geopolitik. Kepergian Negara-negara adikuasa dari Asia Tenggara merupakan sumbangan penting bagi penyelesaian damai di Kamboja. Situasi pasca peranng dingin memperluaskan pilihan alternative kebijakansanaan ASEAN. Dan manusia, serta  tingkat-tingkat pembangunan yang berbeda-beda semakin  membuka peluang bagi kerjasama dan komplentaritas yang lebih besar, karna abad ke 21 ASEAN benar-benar memasuki masa bebas tarif.

C.    Kerjasama ASEAN-RRC
Dalam KTT di Phnom Penh 2002, telah disepakati pakta perdagangan bebas ASEAN-RRC. Di satu sisi ASEAN berharap agar kerja sama itu dapat membantu ekonomi ASEAN yang terpuruk dan mengurangi ketergantungannya pada pasar Barat, sedangkan di sisi lain RRC ingin mengimbangi kekuatan ekonomi jepang. Hal ini disebabkan karena RRC bersama Taiwan, serta keempat Negara ASEAN (Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Brunei Darussalam) mempunyai klaim tumpang tindih atas beberapa bagian daerah kepulauan di.Laut Cina Selatan.
Selama dua dasawarsa, RRC dikenal sebagai Negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat yang di imbangi dengan peningkatan kekuatan militernya. Bersama dengan mencuatnya kekuatan ekonomi militer RRC, dunia diwarnai kecemasan bagaiman “ menangani “ RRC.
Ancaman yang di timbulkan oleh semakin menonjolnya RRC, teerutama di kawasan Asia Fasifik, merupakan salah satu sebab yang penting bagi berubahnya sikap ASEAN terhadap garis kebijakan keamanan politik. Inspirasi yang mewarnai berdirinya ASEAN adalah merebaknya ancaman komunis di Asia Tenggara.
Setelah perang dingin berakhir dan kemudian diteruskan bubarnya Uni Soviet, memang tidak ada alasan bahwa membengkaknya kekuatan militer RRC tersebut sekedar untuk menghadapi musuh dari luar, baik Rusia, Amerika serikat dan Vietnam. Berkaitan dengan kemungkinan adanya berpendapat bahwa terhadap RRC perlakuan strategi yang dapat mempengaruhi politik luar negerinya. Namun perlu disadari bahwa pikiran RRC lain dengan Negara-negara di Asia Tenggara. RRC yang pernah berabad-abad mempengaruhi Asia Tenggara, merasa ada kepetingang untuk ‘ melindugi’ Asia Tenggara. Dasar pikiran RRC itu mungkin digali dari pengalaman jaman kuno, sewaktu RRC dan India menjadi Negara adikuasa di Asia.
Berdasarkan pengalaman sejarah tersebut, jelaslah bahwa RRC akan tetap mendekati Asia Tenggara dengan alasan apapun, tampaknya RRC menyadari kehawatiran Negara-negara ASEAN yang merasa  berada dalam jangkauan ekspansinya. Karena itu RRC berulang kali menekankan doktorin ko eksintensi damai dan kebijakan anti hegemoni. Namun hal itu tidak merupakan jaminan yang dapat dipercaya tentang ikhtikad RRC yang sebenarnya, sikap RRC yang mudah telah menanamkan  keraguan-raguan di kalangan Negara-negara ASEAN tentang maksud dan tujuan RRC yang sebenarnya. Bagaimanapun juga ASEAN memang sudah merasakan manfaatnya atas kerjasama dengan RRC. Perdagangan dengan negeri itu meningkatkan tiga kali lipat dalam decade lalu, dengan surplus di pihak ASEAN. Di samping itu, ASEAN khawatir akan ditinggalkan dalam globalisasi.

D.    Kerjasama ASEAN-Uni Eropa
Dalam tata ekonomi global yang ditandai dengan semakin menyatunya Negara-negara di dunia, orientasi kerjasama ASEAN mengarah ke Negara-negara industri maju, terutama dengan Uni Eropa (UE). Sedangkan Negara industri sendiri memang semakin tertarik pada Asia sebagai pasar yang penting karena jumlah penduduknya yang besar. Hubungan yang mulai berkembang sejak awal tahun 1970-an itu, ternyata sangat dipenggaruhi oleh pemikiran-pemikiran ekonomi. Hubungan ekonomi antara ASEAN dan Uni Eropa ialah hubungan antara Negara sedang berkembang dengan Negara industri.
Orientansi ASEAN terhadap Uni Eropa terutama dititikberatkan untuk membuka hubungan perdagangan, yang menyangkut syarat-syarat perdaganan yang lebih baik untuk hasil-hasil pertanian ASEAN, dalam perkembangannya, hubungan kerjasama ASEAN- Uni Eropa makin diperluaskan misalnya usaha-usaha patungan dalam eksplorasi sumber-sumber daya ASEAN, liberalisasi hasil-hasil industri ASEAN, kemungkinan mendorong tingkat partisipasi tertentu Uni Eropa dalam kegiatan-kegiatan manufaktur ASEAN dan mengerahkan model untuk membiayai proyek-proyek ASEAN.
Sampai saat ini hubungan ekonomi antara kedua kelompok regional berkisar pada masalah dana bersama untuk menstabilkan ekspor komoditi Negara sedang berkembang, preferensi perlakuan dalam perdagangan dan inventasi Uni Eropa dan ASEAN, dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN-UE di Brussel, Belgia, Myanmar untuk petama kalinya dibolehkan mengikuti pertemuan tersebut, walaupun masih diperlakukan sanksi atas Negara yang diperintah militer itu. Pertemuan para menteri luar negeri  di Eropa itu merupakan yang pertama bagi Myanmar sejak negeri itu masuk ASEAN, mudah-mudahan peristiwa tersebut mampu meningkatkan saling pengertian Negara-negara antara dua kawasan tersebut

E.     Pakta Keamanam ASEAN-Jepang
Pada tanggal 11 Desember 2003, berlangsung pertemuan puncak Jepang ASEAN di Tokyo, Jepang, dalam rangka pembentukan pakta keamanan ASEAN-Jepang. Penggabungan Jepang ke dalam pakta keamanan ASEAN bertujuaan untuk memperdalamkan traktat keamanan dan kerjasama di ASEAN. Traktarat itu berisi perjanjian nonagresi di antara sesama anggota yang menanda tangani traktat itu serta kesediaan untuk menghargai kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas teritoral, ide dasar pembentukan pakta keamanan ASEAN adalah untuk menjaga stabilitas keamanan ASEAN dengan cara mencegah meningkatkannya pertikaian regional menjadi konflik bersenjata.
Masalah utama yang dapat mempenggarui regionalism di Asia Tenggara adalah kedekatan geografis, masalah politik yang timbul dari ketegangan sosio-kultural dan nasionalisme yang mewarnai kebijakan ekonomi maupun proses pengambilan keputusan, tidak dapat di pungkiri bahwa selama ini persepsi ancaman dari anggota ASEAN masih berbeda-beda, bahwa ada perubahan persepsi keamanan di kawasan, khususnya menghadapi ancaman terorisme dengan jaringan global, memang merupakan sebuah kenyataan baru dalam tata hubungn regional sekarang ini.
Demikian juga persepsi terjadi ancaman terhadap Negara-negara di Asai Tenggara juga masih berbeda-beda,berbedanya persepsi Negara-negara anggota ASEAN mengenai ancaman dan banyaknya benih-benih dan pontensi konflik di kawasan ini, menjadikan kehadiran As di Asia Tenggara melalui pangkalan militernya di Filipina menjadi penting. Penggabungan Jepang ke dalam pakta keamanan Asia Tenggara tersebut diharapkan benar-benar dapat memperdalamkan Traktat keamanan, bila Negara anggota saling membantu mengembangkan perekonomian Negara yang terbelakang, niscaya stabilitas keamanan ASEAN  akan terselenggara. Namun, jika satu Negara saja mengalami kemerosotan dan kemunduran ekonomi, maka stabilitas keamanan regional akan mengalami ganguan pula.


Ø  Kekurangan dan kelemahannya
Sebagai organisasi kerja sama regional, ASEAN memang masih menghadapi segudang permasalahan. Adapun kendala tersebut antara lain pluralitas ASEAN, tingkat kemakmuran yang berbeda-beda. Bahkan setelah perang dingin berakhir, justru perbedaan persepsi ancaman itu menjadi faktor lebih sensitif, sehingga menjadi tantangan.
Sampai saat ini kinerja ASEAN masih dikritik karena tidak mampu mengatasi berbagai masalah, seperti krisis ekonomi Asia dan konflik laut Cina Selatan. Bertolak dari perkembangan dunia yang semakin transparan, maka organisasi-organisasi internasional maupun regional semacam ASEAN mau tidak mau juga semakin transparan agar kebersamaan dan kerjasama yang dirangkakan dapat diselenggarakan. Bagi kawasan Asia Tenggara, usaha-usaha kearah kerjasama regional bukan merupakan sesuatu yang baru. Namun dalam perkembangan yang paling menonjol adalah ASEAN.
Kemampuan ASEAN mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai saat ini merupakn keberhasilan yang tidak kecil artinya karena Negara anggota ASEAN berhasil bukan hanya menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi tetapi juga meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. ASEAN mampu muncul tampil sebagai suatu kesatuan politik sehingga memberikan bobot yang lebih besar daripada usaha masing-masing Negara anggotanya. Memang mengubah bentuk kerjasama menjadi intergrasi ekonomi ASEAN tidaklah mudah. Dalam kondisi seperti itu kelihatannya ASEAN masih akan tetap sebagai paying yang dapat mencegah terjadinya konflik terbuka antar anggotanya. Di sisi lain, setiap anggota perlu bersama. Hanya dengan itu Asia Tenggara yang damai dan terselenggara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar